Senin, Februari 16, 2009

G30S/PKI dan Teori Kebisuan Spiral

Setap orang umumnya mempunyai pendapat tentang persoalan atau masalah yang ada di sekitarnya. Pendapat tersebut bersumber pada (a) hasil interaksi sosialnya dengan orang lain, khususnya dengan group mereka, dan (b) terpaan media massa. Dari kedua sumber ini, pada era modern yang ditandai oleh arus informasi yang begitu massif, pengaruh media massa lebih kuat daripada interaksi sosial dalam pembentukan opini kita. Pengaruh media massa begitu kuat, sehingga masyarakat modern, menjadikan media massa sebagai sumber utama informasi dan opini ( walaupun terkadang keberadaan berita itu simpang siur ).

Elizabeth Noelle Neumann, seorang sosiolog Jerman, melakukan penelitian intensif dan bertahun-tahun tentang korelasi antara terpaan media massa dan pembentukan opini publik. Hasilnya berupa sebuah teori yang kini dipakai oleh para teoretisi dan praktisi komunikasi massa di seluruh dunia. Teori itu bernama Spiral of Silence, teori kebisuan spiral.Teori kebisuan spiral mengajarkan kita bahwa dalam masalah-masalah penting atau kontroversial, opini publik cenderung pecah menjadi dua, tiga, atau empat blok. Dalam proses pembentukan opini publik, dengan cepat dan mudah, kita akan menyaksikan munculnya opini mayoritas dan opini minoritas. Mereka yang berada dalam kubu minoritas cenderung “merapatkan barisannya” ke tepi, karena khawatir dihukum, entah dalam bentuk perasaan malu, dikucilkan, atau diancam secara fisik. Akibatnya, mereka menahan diri untuk tidak bersuara (membisu). Sebaliknya, mereka yang berada dalam kubu mayoritas biasanya bersuara keras, dan tampil ke depan secara mencolok. Makin keras suara mereka didengungkan kepada publik, tingkat kebenaran opininya seakan semakin tinggi. Makin tinggi kebenaran yang dikesankan oleh suara mayoritas, kelompok minoritas pun makin khawatir, bahkan makin takut, sehingga mereka semakin mundur ke belakang sehingga terbentuk kebisuan spiral. Lambat-laun, suara opini minoritas nyaris sirna. Yang muncul adalah kebenaran tunggal.

Bukan Berarti Mati Tapi, hasil penelitian Neumann juga membuktikan bahwa itu bukan berarti pendapat minoritas telah mati. Secara aktif dan rahasia, orang-orang di kubu minoritas sebenarnya terus “bergerilya” untuk melancarkan komunikasinya, berusaha meyakinkan orang-orang sekitar tentang kebenaran opini mereka. Mereka yang berada dalam kubu mayoritas pun menjadi sasaran “gerilya komunikasi” tersebut, sepanjang mereka dinilai bisa diajak berdialog. Tidak mustahil, gerilya komunikasi ini lambat-laun membuahkan hasil, yaitu makin banyak orang yang menyeberang ke kubu minoritas. Pada suatu saat tidak mustahil terjadi keseimbangan opini, bahkan yang minoritas menjadi mayoritas, dan yang semula mayoritas justru menyusut menjadi minoritas.

Saya mengambil contoh dari kejadian naik dan jatuhnya rezim Orde Baru merupakan salah satu contoh kasus paling bagus tentang kebenaran teori kebisuaan spiral. Selama Orde Baru, dominant opinion itu amat gamblang: bahwa pemerintahan Soeharto yang bertumpukan demokrasi Pancasila betul-betul demokratis, mekanisme kepemimpinan nasional lima tahunan adalah contoh dari demokrasi yang dimaksud, bahwa pers Indonesia bebas (Pancasila), bahwa rakyat bebas menyatakan pendapatnya, bahwa pembangunan ekonomi berhasil meningkatkan kesejahteraan rakyat dan lain sebagainya. Pendapat minoritas di luar itu praktis habis “dibunuh” dan mereka yang kokoh dengan pendapat minoritas pun akhirnya takut menyuarakannya; atau tidak lagi ada media yang berani menyuarakannya. Toh, pada akhirnya, sejarah berbalik.

Pada akhirnya, opini mayoritas berhasil dihancurkan, dan opini minoritas bangkit sehingga menjadi opini mayoritas.Selama Pak Harto berkuasa, kebenaran cerita tentang Gerakan 30 September/PKI cuma satu, yakni tragedi itu merupakan kudeta bersenjata Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dibantu oleh sejumlah perwira ABRI yang sudah lama disusupi oleh kader-kader PKI. Tujuannya jelas, menumbangkan kekuasaan Soekarno untuk kemudian mendirikan pemerintahan komunis di Indonesia.Opini RontokKira-kira tiga atau empat tahun setelah G30S/PKI pecah, sejumlah ilmuwan di Cornell University, Amerika, sebenarnya, mempublikasikan hasil penelitian mereka. Menurut mereka, G30S/PKI merupakan konspirasi banyak faktor, internal, maupun eksternal. Yang paling utama adalah keterlibatan Amerika untuk menghancurkan rezim Soekarno yang dinilai sangat antibarat, khususnya anti-Amerika. Melalui operasi clandestine CIA, Washington diam-diam memberikan bantuan dana maupun logistik kepada perwira-perwira probarat. Tatkala jenderal-jenderal pro-Amerika ini tewas dibantai oleh perwira-perwira muda pada 1 Oktober 1995 dini hari, dan ketika Mayjen Soeharto dengan cepat tampil untuk menghancurkan G30S/PKI, Amerika pun dengan cepat memberikan dukungannya kepada Soeharto. Versi Cornell Papers ini dijegal oleh penguasa Orde Baru, karena ia bertentangan dengan dominant opinion yang sudah diset oleh Orde Baru. Namun, setelah Orde Baru rontok pada Mei 1998, dengan sendirinya opini dominan tadi rontok pula.

Dewasa ini, rakyat Indonesia disuguhkan oleh macam-macam versi G30S/PKI. Paling sedikit terdapat 6 versi yang bisa kita analisis, yaitu G30S/PKI (a) sesungguhnya didalangi oleh Soeharto; (b) hasil konspirasi berbagai elemen internal maupun eksternal Indonesia, terkait pula dengan suasana perang dingin waktu itu; (c) diarsiteki oleh CIA, (d) sepenuhnya masalah internal ABRI, tepatnya perseteruan antara perwira-perwira progresif dan reaksioner (baca: pro-kapitalis); (e) didalangi oleh Soekarno dan (f) gerakan murni PKI dengan sasaran akhir mengkomuniskan Indonesia. Semakin lama proses pembentukan opini tentang G30S/PKI bergulir, semakin mengkristal pula opini dominan dalam masyarakat, yaitu Seoharto-lah dalang pemberontakan bersenjata itu. Tapi, hingga kini diakui pergulatan untuk membentuk satu opini dominan mengenai G30S/PKI masih berlangsung sengit, sebab mereka yang konsisten menganut opini dominan pada masa Orde Baru masih besar jumlahnya. Buktinya, upaya sisa-sisa PKI, atau generasi penerus PKI, untuk bangkit kembali di permukaan masih menghadapi hambatan dan tantangan serius. Bagaimana hasil akhir dari pergulatan opini ini, sebagian besar tergantung pada sikap penguasa. Sebab bukan rahasia lagi, kebenaran selalu ada di tangan yang berkuasa…….!

TAPI KEBENARAN YANG HAKIKI PASTI AKAN SELALU DATANG TANPA ADA YANG MAMPU UNTUK MENUTUPINYA

Jumat, Februari 06, 2009

Tanggung Jawab Mahasiswa Sebagai Kaum Intelektual


Terkadang kita sering mendengar dan melihat kata-kata seperti Moral Force,Social Of Control,Agent of Change. Mungkin kita lebih sering mendengar dan melihat kata-kata Agent Of Change, terutama di jaket/baju kalangan mahasiswa/i tanpa mereka menyadari tanggung jawab yang harus mereka pikul sebagai penerus bangsa.

Sebenarnya dari ketiga kata-kata yang saya sebutkan tadi, yang mungkin juga"bukan bermaksud Su'udzhon" dijadikan sebagai kata-kata ajang keren-kerenan bagi mahasiswa/i, mempunyai sebuah arti yang mendalam jika kita pahami dengan baik dan memperbaiki identitas pergerakan mahasiswa jika dilakukan dengan benar. Ada baiknya kita mengetahui arti dan tanggung jwab kita sebagai kaum intelektual.

MORAL FORCEMaksudnya bahwa mahasiswa mampu untuk menjadi penyampai amanah penderitaan rakyat kepada elit untuk kemudian ditindak lanjuti oleh elit pemerintah.

SOCIAL OF CONTROLMahasiswa harus mampu untuk mengawal pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan yang berhubungan dengan masalah publik. Hal ini dilakukan untuk mengawasi pemerintah jangan sampai pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dapat merugikan masyarakat bawah (grass root).

AGENT OF CHANGEPeran mahasiswa yang satu ini yang membuat mahasiswa biasa di sebut sebagai agen perubahan atau agen pembaharu. Bahwa mahasiswa harus terus melakukan perubahan sosial ke arah yang lebih baik, atau biasa di sebut civil society, mahasiswa harus terus memikirkan ide-ide baru untuk membawa masyarakat ke arah yang ideal, yang selalu di impikan.

Sebenarnya kalu kita menyadari Ketiga peran di atas sudah cukup jelas tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu :

Pendidikan, bahwa mahasiswa kemudian harus terus mencari ilmu, mahasiswa harus wajib untuk terus merasa haus untuk terus menambah pengetahuan yang di milikinya.

Penelitian, bahwa mahasiswa untuk menambah pengetahuan yang di milikinya, mereka harus meneliti, hal ini juga untuk melihat bagaimana realitas sosial masyarakat.

Konsekuensi dari keberpengetahuanan mahasiswa ini kemudian mewajibkan kita sebagai mahasiswa, untuk melakukan Pengabdian Pada Masyarakat.

Oleh karena itu maka sudah selayaknya kita mahasiswa, untuk melakukan pergerakan untuk melawan segala bentuk penindasan. Tumbuhkan kembali jiwa kritis mahasiswa, kita harus terus pesimis, kita harus terus mempertanyakan segala sesuatu yang kita hadapi. Maka dari itu kembali saya tekankan bahwa sebagai seorang mahasiswa, kita harus terus melakukan pergerakan. Jangan hanya mampu untuk berbicara tanpa melakukan apa-apa,dan jangan bergerak tanpa tahu apa-apa. Saya tutup sebuah pemikiran sederhana ini dengan sebuah pesan.

Ingat kawan ketika kita melihat penindasan, dan kita diam terhadap penindasan tersebut, maka kita adalah penindas pula. Oleh karena itu, kita hanya punya dua pilihan, tunduk tertindas atau bangkit melawan, sebab mundur adalah pengkhianatan. Mari maju bergerak bersama mewujudkan ekspektasi masyarakat. Satu bumi milik bersama, tanpa batas tanpa penindasan.

DIAM BUKAN JAWABAN